Audit

MENGAPA SEAKAN ANDA INGIN MENGAUDIT MALAIKAT..?
Sobat! Sadarkah anda bahwa apapaun yang anda ucapkan atau lakukan pasti dicatat oleh Malaikat pencatat amalan? Mungkinkah ada satu ucapan atau amalan anda yang luput dari catatan Malaikat?
وَوُضِعَ الْكِتَابُ فَتَرَى الْمُجْرِمِينَ مُشْفِقِينَ مِمَّا فِيهِ وَيَقُولُونَ يَا وَيْلَتَنَا مَالِ هَذَا الْكِتَابِ لَا يُغَادِرُ َصغِيرَةً وَلَا كَبِيرَةً إِلَّا أَحْصَاهَا وَوَجَدُوا مَا عَمِلُوا حَاضِرًا وَلَا يَظْلِمُ رَبُّكَ أَحَدًا
“Dan diletakkanlah kitab (catatan amal), lalu kamu akan melihat orang-orang yang bersalah ketakutan terhadap apa yang (tertulis) di dalamnya, dan mereka berkata: Aduhai celaka kami, kitab apakah ini yang tidak meninggalkan yang kecil dan tidak (pula) yang besar, melainkan ia mencatat semuanya; dan mereka dapati apa yang telah mereka kerjakan ada (tertulis). Dan Tuhanmu tidak menganiaya seorang jua pun” (Al Kahfi 49)
Bila semua sudah dicatat, dan kelak di hari qiyamat anda pasti mempertanggung jawabkannya kepada Allah, lalu mengapa saat ini seakan anda merasa perlu untuk membuat catatan atau mendokumentasikan amalan anda ? Mungkinkah anda kawatir ada yang terselip dari catatan malaikat atau luput dari perhitungannya ?
Kalau anda berkata: aah, inikan untuk kenang-kenangan, sekedar untuk bercerita kepada karib kerabat dan teman.
Luar biasa, alasan yang terkesan cerdas dan manusiawi, namun coba sesaat anda merenung: sebenarnya anda beribadah untuk bercerita atau menjadi kenangan ? bukankah anda beribadah untuk mencari ridha Allah Ta’ala? lalu mengapa tanpa anda sadari ada niat lain, kenangan, atau bahan cerita kepada orang ? apakah anda tidak kawatir terperangkap dalam riya’ ? ataukah anda telah merasa memiliki proteksi yang ampuh dari penyakit riya’?
Kalau mau menghitung dan mengenang, maka kenanglah dosa anda, agar anda selalu rajin beristighfar dan memohon ampunan, bukan untuk dibanggakan atau diceritakan.
Sahabat Abdullah bin Mas’ud berkata:
عدوا سيئاتكم؛ فأنا ضامن أن لا يضيع من حسناتكم شيء
“Hendaknya kalian menghitung dosa dosa kalian, dan aku jamin bahwa tiada satupun kebaikan kalian yang terluputkan.” (At Tirmizy, Ad Darimy dll)
Sadar sobat, tata kembali niat anda, jangan sampai budaya selfie merusak ibadah anda tanpa anda sadari, akibatnya hanya selfie yang anda dapatkan dari ibadah anda, sedangkan pahala bisa saja sirna, karena ternyata ada niat lain, yaitu kenangan atau bahan cerita kepada kerabat atau teman.
Ya Allah limpahkan keikhlasan kepada hamba-Mu yang lemah ini.
Ust. Muhammad Arifin Badri,  حفظه الله تعالى
Twitter @IslamDiaries

Instagram @DiariesImage 

Telegram Channel IslamDiaries

Advertisements
Posted in tarbiyah
%d bloggers like this: