Negeri yang terlaknat

Saudaraku yang mencintai sunnah dan dicintai Allāh Subhānahu wa Ta’ālā,
Anda mungkin kaget dengan judul diatas, terkesan kasar dan terlalu berani, namun percayalah bahwa itu nyata, bahkan dekat dengan kita.
Sebelum dilanjutkan, izinkan saya bertanya dulu pada anda, pernahkah anda mendengar kisah orang kaya, berharta melimpah, namun tak bahagia bahkan matinya sengsara? Atau orang yang hoby nya melancong ke luar negri, terlihat foya-foya dan hura-hura, padahal gersang hati dan jiwanya? 
Begitu pula dengan kisah suatu negri yang padat penduduknya, cerdas masyarakatnya, melimpah sumber daya alamnya, tetapi merosot ekonominya, tergadai kebebasannya, dan tercabik-cabik emosi serta harga dirinya. 
Jikalau pernah, maka itulah salah satu dari sekian banyak tanda dicabutnya Rahmat Allāh Subhānahu wa Ta’ālā. Tanda bahwa laknat mulai mendekat.
•Saudaraku, laknat itu artinya jauh dari kebaikan. 
Kebaikan menurut Allāh Subhānahu wa Ta’ālā, bukan menurut manusia. Ada juga yang menyatakan, laknat adalah jauh dari Allāh Subhānahu wa Ta’ālā.
Jika laknat itu dari manusia atau makhluk, maka yang dimaksud laknat adalah celaan dan do’a/sumpah.
Adapun laknat dari Allah, maka ia berarti jauh dari rahmat Allah, jauh dari kasih sayang Allāh Subhānahu wa Ta’ālā, dan berhak mendapatkan siksa, hingga akhirnya binasa. (Lisanul ‘Arab, 13: 387-388)
_Lalu apa kaitan semua ini dengan laknat? Apa tolok ukurnya?_
•Al-Mundzir ibn Sa’id Al-Baluthi rohimahulloh, seorang qodhi dimasa kejayaan Islam Andalus pernah mengatakan sesuatu yang tercatat dengan tinta emas sebagai kaidah, kaidah sebuah kepemimpinan;
إذا خشع جبّار الأرض، رحم جبّار السماء
_“Jika penguasa dimuka bumi ini tunduk atau khusyuk, maka penguasa langit -yakni Alloh- akan menurunkan RahmatNya atau Kasih SayangNya”_ 
[Siyar A’laam An-Nubalaa’, Imam Adz-Dzahabiy , cet: Muassasah Ar-Risalah, hlm: 177]
Banyak diantara kita yang _maghrur alias tertipu_, tidak menyangka ada keterkaitan erat antara kepemimpinan dengan laknat, bahwa _kualitas keimanan seorang pemimpin bisa menjadi tolok ukur turunnya kasih sayang Allāh Subhānahu wa Ta’ālā..!_
Tidakkah kita juga belajar dari kisah sahabat ‘Ubadah bin Shomit rodhiallohu ‘anhu yang pulang dari negri Syam dibawah pimpinan Gubernur Mu’awiyah rodhiallohu ‘anhu menuju Madinah yang dipimpin Amirul Mukminin ‘Umar bin Khottob rodhiallohu ‘anhu karena sering tidak sepaham dengan Mu’awiyah, sering ada perbedaan perndapat antara dirinya dengan sang Gubernur, namun akhirnya kepulangan ‘Ubadah ini dilarang oleh Kholifah. 
•Bahkan kholifah ‘Umar bin Khottob justru menentang keras kepulangan ‘Ubadah bin Shomit. _Apa alasannya?_ 
Karena tidak ada kebaikan bagi suatu negri tanpa kehadirannya, atau orang sepertinya, yakni orang Alim seperti ‘Ubadah bin Shomit rodhiallohu ‘anhu. 
•Ketahuilah saudaraku, hal yang wajar jika ada perbedaan pendapat antara Umaro dan ‘Ulama, yang tidak wajar adalah jika Umaro memusuhi ‘Ulama. Karena tak ada kebaikan bagi suatu negri tanpa kehadiran orang sholih. 
•Sebab tidak semua permasalahan dapat diselesaikan dengan mengandalkan kecerdasan serta kemampuan seorang pemimpin saja. 
•Perlu ada kalimat-kalimat ampuh yang keluar dari lisan orang sholih, perlu ada nasihat dan doa dari Imam yang Adil. Kalimat serta nasihat dari lisan seseorang yang digambarkan dalam hadits;
لو أقسم على الله لأبرَّه-  رواه مسلم
_“Apabila ia berdoa atau bersumpah kepada Alloh, pasti Alloh akan mengabulkannya”_

[HR Muslim 4754]
Inilah sejatinya yang dibutuhkan oleh negri ini.. Kehadiran orang-orang sholih. Keberadaan orang-orang sholih yang didengar oleh pemimpinlah yang menyebabkan Rahmat Alloh turun pada kita. Bukan negri atau pemimpin yang memusuhi ‘Ulama nya!
Lalu, apa yang terjadi jika suatu negri memusuhi ‘Ulama nya?
• *Negeri yang terlaknat…*
Lantas, bagaimana jika pemimpin kita tidak tunduk dan khusyuk dengan aturan Allāh Subhānahu wa Ta’ālā??

Laknat lah yang akan menimpa…
Sebab makna laknat adalah _dijauhkan dari Rahmat (Kasih Sayang) Allāh Subhānahu wa Ta’ālā._
Karenanya saudaraku, pilihlah PEMIMPIN YANG TUNDUK…_*
Tunduk pada aturan Alloh yang berarti *MUSLIM*, dan tunduk pada manusia yang berarti tidak congkak.
Wallahu Ta’ala A’lam.
Ustadz Rosyid Abu Rosyidah 
🔎 Visit :

https://bimbinganislam.com
📲 Gabung Yuk :

• bimbinganislam.com/facebook

• bimbinganislam.com/telegram

• bimbinganislam.com/youtube

• bimbinganislam.com/mixlr

• bimbinganislam.com/instagram

Advertisements
Posted in tarbiyah
%d bloggers like this: